Kanvasku, Anne Frank, Nietzsche dan Iqbal
Sudah sekian lama aku tidak menulis, penaku telah kuganti dengan cangkul dan bajak, bukan untuk selarik kertas yang penuh dengan bahasa-bahasa nan indah, tapi sebidang lahan yang kan tumbuhkan hijauan di atas bumi, lakukan usaha sekecil mungkin demi keberlangsungan hidup bumi pertiwi. Ini sesungguhnya kulakukan bukan tuk diriku sendiri, tapi memang sudah seharusnya dilakukan oleh anak manusia yang peduli dengan banyak hal, yang banyak berpikir dan merasa.
Kini arah angin membawaku pada persoalan yang rumit ini yang aku tidak berdaya apa-apa untuk menolaknya, juga memecahkannya. Ke mana aku harus berlari saat semua orang berlari kepadaku? Hanya kanvas ini yang paling setia menemaniku, yang pada masalah-masalah rumit ini akhirnya aku kembali padamu, mencurahkan segala gundahku padamu. Dan kau hanya diam, seolah selalu mengiyakan apa yang kukatakan, entah makian, pujian, sumpah serapah, atau tangisan dan duka cita. Diam yang agung, yang semua orang pun akan berpaling padamu. Kau hanya menerima segala curahan pikiran dan perasaan, menerima semua itu dipahatkan padamu dan menyampaikan ke semua orang apa adanya, tanpa kebohongan dan keluhan.
Kanvas ini seolah hidup, cermin dari keagungan alam, guru sekalian manusia. Hanya manusia yang berpikir dan merasa saja yang akan memperoleh ilmu darimu, dan sedikit lagi yang akan memperoleh hikmahnya. Kujelaskan bahwa kebanyakan manusia sangat berbeda denganmu. Manusia banyak bicara, kurang mendengar, dan kerap sekali berbohong dengan maksud yang mereka sendiri pun tidak mengerti, saat dihampiri suka ia tertawa terbahak-bahak, saat dilanda sedih menangis tersedu-sedu. Sedangkan kau, diam, mendengarkan, menerima, menyampaikan, apa adanya, jujur pada sekalian alam, jujur pada diri sendiri, seperti sifat-sifat malaikat yang tertulis pada kitab-kitab suci, pada perkamen-perkamen yang adalah dirimu sendiri.
Manusia yang tinggal dalam kesepian, banyak berpikir dan merasa pada akhirnya pun akan seperti ini. Gadis Anne Frank yang hidupnya penuh pengasingan dan kesepian, selalu hidup dalam persembunyian dari tangan-tangan Nazi yang panjang di Belanda, dia pun pada akhirnya bisa melihat hal ini, bahwa kanvas tulisan bukan benda mati, tapi mahluk hidup yang penuh kebijaksaan dan kesetiaan. Ia selalu menuliskan apa saja tentang perasaan dan pikirannya pada buku diarinya yang diberinya nama Kitty. Dan ia perlakukan itu sebagai mahluk hidup yang ia ajak bicara dan berkeluh kesah, dalam tulisan yang indah dan menyentuh perasaan. Sesungguhnya mungkin ia telah merasa bahwa Kitty memang bukan benda mati, tapi hidup dan menjadi teman satu-satunya, hingga akhirnya ajal menjemputnya di Kamp Konsentrasi saat gas beracun sianida disemprotkan dalam sebuah ruangan tertutup itu.
Apakah ini sebuah kegilaan, seperti juga Nietszche, manusia paling kesepian yang hidup di akhir abad 19, betapa penuh kasihnya ia dengan lembaran-lembaran kertas yang menjadi kawan setianya hingga mati, memperlakukannya dengan penuh hormat dan penghargaan tinggi. Lembar-lembar kertas yang menjadi mahluk penyampai pesan apa adanya, tempat aforisme-aforismenya dituliskan hingga lahirlah ide-ide “gila” yang menginspirasikan para filsuf-filsuf masa kini dalam merumuskan pandangan dunia, hingga sampai kemudian Jaques Derrida menemukan ide tentang dekonstruksi, bahwa itu juga terinspirasikan dari lembar-lembar aforisme sang filsuf gila ini.
Ia memang gila, benar-benar gila, ketika pada tanggal 3 januari 1889, di Plazza Cvarlo Alberto di kota Turino, Jerman, sebuah kereta berkuda lewat di sana. Seorang lelaki yang baru keluar dari rumah kontrakannya melihat betapa brutal kusir kereta itu melecuti kudanya, dan ia berlari-lari menghampiri kuda yang dilecuti itu, dipeluknya kuda malang itu sembari menangis tersedu-sedu. Ia dituntun oleh seorang teman untuk kembali ke rumahnya, memanggil dokter yang lalu memfonis Nietzsche telah mengidap sakit jiwa.
Bila kita membaca Focault, terutama karyanya berjudul Madness and Civilitation dan Knowledge is Power, kita bisa menyimpulkan bahwa putusan dokter itu mungkin terlalu berlebihan, hanya sebuah prasangka ilmiah yang dilandasai oleh kekuasaan yang terpusat. Sesungguhnya, apa yang dilakukan Nietzsche kepada kuda tersebut tak ubahnya gadis Anne Frank kepada Kitty. Ia yang begitu perasa akan mampu memperlakukan kuda itu jauh lebih baik dari si kusir.
Sesungguhnya Nietzsche tidak hanya memahami tentang nasib, tapi mengambil bagian dari nasib, maka ia mengatakan amor fati, saya memasrahkan diri pada nasib. Ia bisa mengatakannya sebab ia telah menerima ego fatum: Saya pasrah kepada nasib, karena saya sendiri adalah nasib. Maka dari itu ia hendak, dan menyarankan kepada semua manusia, untuk mencapai ubermensch, manusia sempurna, atau Muhammad Iqbal yang mengaku sebagai muridnya mengatakannya sebagai insan kamil.
Siapakah ubermensch itu? Mereka yang bisa berkata ya kepada hidup. Ia menganjurkan ini karena ia telah menyaksikan bahwa kebudayaan Eropa, orang-orang Eropa “tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, takut merenung”, atau takut pada kesepian. Inilah satu dari ratusan tanda akan datangnya nihilisme yang menjadi ramalan untuk manusia modern dewasa ini. Nihilisme adalah runtunya seluruh nilai dan makna meliputi seluruh bidang kehidupan manusia yang dibagi menjadi dua: yaitu keagamaan (moral) dan pengetahuan.
Runtuhnya dua bidang ini membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami dunia dan hidupnya, nihilisme mengantarkan manusia pada situasi krisis, karena seluruh kepastian hidupnya runtuh. Dan itu semua cukup ia katakan dengan seruan sederhana “Gott ist tot!” (“Tuhan telah mati!”). Tuhan dalam arti ini adalah segala sesuatu yang menjadi jaminan kepastian, dari agama hingga ilmu pengetahuan. Tidak ada kepastian di dunia ini! Maka terimalah nasib, manusia terlalu lemah dalam membuat kepastian, manusia tak kan mampu mengatur kehendak alam, maka terimalah.
Jika nihilisme merupakan perkembangan yang harus terjadi, maka persoalan yang muncul dan harus dijawab adalah: apa yang harus dilakukan manusia? Nietzsche menyerukan tujuan baru: the will to power (kehendak untuk berkuasa) sebagai prinsip untuk memandang dunia dan hidup, yang merupakan kehendak untuk membawa hidup dalam sebuah “proses-pemeliharaan”. Dengan pemahaman hidup ini ia mengakui bahwa pada prinsipnya manusia dan binatang adalah sama. Keduanya merupakan sekumpulan (kraft) yang disatukan oleh suatu proses-pemeliharaan (ernaherungs-vorgang), meski kelebihannya manusia mempunyai potensi untuk mengatasi diri dan mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh mansuai itu sendiri.
Ini juga kadang terjadi denganku, bahwa Nietzsche tentu bisa merasakan bahwa alam dan dirinya sudah tiada lagi sekatnya. Amor fati, ego fatum. Sedangkan Iqbal, manusia paling kesepian di abad 20 dari Pakistan itu cukup memberikan perbandingan bahwa Nietzsche mengalamai nasib yang sama dengan Al-Hallaj, di mana ia lahir bukan untuk zamannya, tapi untuk masa depan. Penghukuman masyarakat kepada dua orang itu sama, penuduhan gila, meski ending-nya sedikit berbeda, Al-Hallaj berakhir di tiang gantungan, Nietzsche meninggal dalam kehilangan ingatan.
Sedangkan aku? Aku hanya ingin sedikit kedamaian saja. Hingga diumur delapan puluh kelak, atau lebih panjang dari itu, yang aku impikan hanya mati dengan damai. Kadang manusia terlalu senang melihat hasil yang indah tanpa mau berpaling pada proses panjang dan berliku yang harus dilalui. Untuk mati pun manusia butuh persiapan, jika ia ingin sebuah kematian yang agung dan indah.
(akhir Juni 2008)
Belajar untuk Melihat
Ada seorang juragan permata dan pemuda. Juragan permata itu
telah tua, bekerja dibantu sepenuhnya oleh sang pemuda. Pemuda yatim, tampan,
jujur, rajin bekerja, cekatan, patuh, namun penuh inisiatif yang membuat usaha
dagangnya semakin maju. Jatuh hati juragan tua itu kepadanya, bintang
keberuntungannya, pelarisannya. Hingga suatu hari juragan tua itu merasa begitu
kasihan melihat sang pemuda yang sekian lama terus kesepian. Ia menawarkan batu-batu
permatanya, dengan cuma-cuma. Pemuda itu boleh memilih permata mana pun yang ia
sukai, yang terbesar, termahal, terindah, terelok, terlangka, atau apa saja,
untuk menjadi pelipur hatinya. Sungguh heran juragan tua, pemuda itu menolak. Sebagai
gantinya ia minta libur yang sangat lama. Tidak bisa juragan tua menahannya.
Pergilah pemuda itu, berjalan ke timur, jauh sekali. Tambang
permata tujuannya. Sesampainya di sana, ia bercampur bersama para pencari
permata, menyelam ke dasar sungai, berkubang dalam lumpur setiap harinya. Hingga
dirasa waktu liburnya telah habis pulanglah ia. Sesampai kembali di kotanya, bertemu
ia dengan kawan-kawannya yang menanyakan perihal permata yang ia telah cari,
dan berderai tawa mereka melihat pemuda itu mengeluarkan sebongkah batu biasa,
jelek, tak menarik dan penuh lumpur.
Ia kembali bekerja seperti sedia kala. Di waktu senggangnya
ia tempa batu itu: ia usap dan gosok, terus ia gosok dengan alat-alatnya, dengan
pengetahuan dan pengalaman pribadinya,dengan seninya sendiri, dengan sepenuh
hati dan perasaanya. Semakin lama semakin muncul kilaunya, semakin nampak
keindahannya. Itulah permatanya sendiri.
Kawan-kawannya, yang sesekali mengunjungi, kini semua iri
dengan perolehan pemuda itu. Lalu mereka bertanya pada juragan tua, mana yang
lebih bagus antara permata sang pemuda dengan permata-permatanya sendiri.
Menjawab juragan tua: permata milik pemuda itulah yang paling bernilai.
Kawan-kawan itu tidak setuju, sebab banyak permata milik juragan yang lebih
indah dan mahal darinya, atau dengan pahatan-pahatan yang jauh lebih elok.
Tidak, tidak, dan tidak. Kalian harus belajar melihat dulu.
Permata-permataku dicari dan dipahat untuk dijual, bukan untuk diagungkan keindahannya.
Sedangkan sang pemuda, ia sudah pandai melihat itu. Maka tidak sama sekali ia
tertarik dengan permata-permataku. Ia lebih senang untuk mencari sendiri,
susah-payah, bekerja keras tanpa lelah, hingga menemukan sebongkah batu yang tampak
buruk dan kotor, yang diangkat dari lumpur kelam. Ia telah belajar melihat,
betapa batu itu kelak akan berubah menjadi permata yang tak ternilai harganya, bila
orang tahu cara menempanya. Kemudian ia gosok dan usap dengan sabar, dengan sepenuh
hatinya, dengan segenap perasaannya, hingga hasilnya sungguh tak terdandingi.
Ia bekerja demi keagungan, bukan demi materi dan imbalan. Hasilnya jauh berbeda,
nak, jika kalian telah belajar untuk melihat.
Hingga suatu saat pemuda itu dikirim oleh juragan tua keluar
kota selama beberapa waktu lamanya, untuk mewakili kerjasama dagangnya. Ia
titipkan permatanya di rumah juragan tua, yang lalu dipajang untuk dikagumi
keagungannya. Dan kawan-kawannya, yang dahulu hanya tertawa, kini mencoba untuk
menikmati keagungan permata itu, kemudian turut menjamahnya, mengusapnya sekena
hati mereka. Hingga sepulang pemuda itu dari perjalanannya, ia melihat terlalu
banyak tangan yang telah menjamahnya, dan agak kecewa ia dibuatnya, sembari
bertanya-tanya dalam hati:
Bilakah permata itu akan memudar keagungannya, saat terlalu
banyak tangan yang turut menjamahnya, menggosok sekenanya, dengan rasa yang
seadanya?
(3/9/07)
Hidup yang Bersahaja
Aku duduk di gardu ronda. Dengan hati yang tentram dan pikir
yang jernih aku menulis kisah ini. Ada secuil harapan, barangkali bisa berguna
buat para sahabatku, minimal buatku sendiri.
Hawa dingin Jogja utara di musim kemarau terasa sejuk. Malam
pekat. Aku duduk bersandar tembok. Diam. Di depanku bapak-bapak dan pemuda
sedang bermain kartu dengan sopan. Sopan, sebab tanpa taruhan dan umpatan. Sesekali
tawa santai berderai. Kulihat Pak Panggil, salah satu pemain sedang membenarkan
jubah sarungnya untuk mengusir dingin. Hening. Damai. Suara lantunan wayang
dari siaran radio Kanca Tani merancah memecah suasana, diselingi nyanyian
sinden mengalun lembut menentramkan jiwa.
Orang-orang yang bersahaja. Para petani sederhana itu. Aku
tidak bisa main kartu dan tidak pernah tertarik dengannya, maka seperti biasa
aku membaca buku atau menulis cerita. Disampingku bersandar dua sesepuh, Mbah
Man dan Mbah Harjo Sarimin, penduduk asli yang sejak muda telah menjadi petani
hingga kini. Sesekali aku berhenti menulis. Dengan sabar aku dengarkan tutur mereka,
tentang kisah-kisah masa muda mereka, tanaman padi mereka, anak-anak mereka
yang telah merantau, peristiwa-peristiwa di kampung, dan kesimpulan-kesimpulan
mereka sendiri tentang kehidupan.
Terlalu sederhana pemikiran mereka, pikirku, sangat
sederhana dibanding aku yang sarjana ini, dengan pikiran yang rumit dan
kompleks. Namun aku seringnya berkata njeh, juga untuk nasihat-nasihat mereka.
Mungkin lebih untuk melegakan hati mereka. Aku begitu menghormati mereka. Tidak
pernah aku meremehkan mereka, dalam hati pun tidak. Aku tahu, mereka
orang-orang yang telah begitu ahli dalam membuat hidup menjadi selaras, hidup
yang bersahaja, yang itu masih belum atau cuma sedikit aku punyai. Saat bersama
mereka ada rasa tentram mengalir kepadaku, dari orang-orang yang bau tanah itu,
sahabat-sahabatku.
Kemudian, biasanya setelah lelah membaca atau menulis aku
mulai berbaring beralas tikar, buku kugunakan sebagai bantalnya, menikmati
lantunan wayang dan nyanyian sinden-sindennya, lalu lelaplah aku hingga mereka
membangunkanku kembali saat ronda telah usai.
Kurasakan mereka begitu peduli denganku. Kadang mereka
menatapku dengan pandang sendu. Kupikir mungkin karena aku anak yatim yang
harus menanggung kewajiban keluarga yang hidup di desa, untuk meronda setiap
minggu malam dan datang kerja bakti pada minggu pagi. Itu semua kujalani dengan
senang dan ikhlas. Sesungguhnya aku merasa bahagia, aku bahagia saat bisa
menyumbangkan tenagaku untuk kepentingan banyak orang. Bekerja bersama, hidup
rukun, tentram, saling menolong dan menjaga rasa. Kurasakan tidak ada batas
antara aku dengan mereka.
Betapa kurenungi ritual demi ritual itu berulang-ulang terus
seperti tenggelam dalam keabadian. Biarlah tetap seperti ini, meski sejak kini
aku sudah harus menata hati, supaya kelak, bertahun-tahun kemudian, aku akan
kuat saat kehilangan mereka, saat memenuhi kewajibanku untuk menguburkan
mereka. Dan akan kubalas cinta abadi mereka dengan doa.
(Dini hari, 3 September 2007)
Mengapa kita (aku) menulis
Blog?
Untuk siapa kita (aku) persembahkan?
UKM Ekspresi UNY. Senin malam, 28 Mei 2007. Seorang kawan
lama memintaku untuk menulis blog. Akan aku coba.. jawabku, dalam hati.
Suatu hal yang kebetulan ketika malam itu aku mampir ke kampus,
ke sekretariat organisasiku untuk ber-online ria (komputer kami telah dibikin
online—thanks to Sismono La Ode, PU Ekspresi 2004-2005 yang berjuang
mati-matian untuk pencapaian ini—buka-buka Friendster, Multiply, Yahoomail, download
AVG antivirus update files, dan browsing data. Tapi yang terpenting adalah
mengirim tulisanku ke INDEXPRESS. Ini pekerjaan rutinku sekarang.
Ada cukup orang di sana. Islah dan Ubed sebagai takmir tidak
pernah absen. Juga Kalam, bekas takmir. Sedangkan Inal, Nesy, Ahmed, Bimo,
Warso lagi rapat kecil di ruang baca untuk menentukan Cover buku Ekspresi 2007.
Tiwik jam 8 udah tidur, Fajar lagi asik milih klip untuk friendster media box.
Terus junior2 Expedisi: Panjoel, Yandri, Raden Cahyo, dll.
Saat itu aku ketemu Bung Zen (dulu kami ketemu setiap hari
di kampus, tapi kini karena aktivitas kami, bisa ketemu sebulan sekali aja udah
untung, sebab dia sering ke Jakarta). Aku juga bertemu Mas Agung Tampan yang
baru pulang dari Jakarta; malam itu dia datang membawa martabak buat kami yang
kelaparan, wah senangnya! Setelah kupakai laptop Tosiba miliknya (ada label
stiker hologram Windows 2000, tapi ternyata isinya Windows XP, makanya jadi
lambat nian.. laptop kantor, katanya, sembari tersenyum) untuk ngrampungin
tulisanku, segera saja ku kirim via online lewat komputer organisasi, komputer Pentium
4 yang jalannya lelet kayak siput, sebab piranti lainnya seperti mainboard,
hardisk, memory, dan power supply-nya kualitas rendah, tanpa sound dan VGA card
eksternal pula. Biasa lah, pikirku, komputer dari rektorat! Komputer proyekan!
Nah, sembari ber-online itu, Zen datang padaku, menengok
sebentar, setelah menanyai persoalan kawan-kawanku di Friendster, lalu
mengajakku untuk menulis blog. Akan aku coba.. jawabku, dalam hati.
Sejak dulu aku sudah kenal fitur internet yang namannya blog
ini. Kadang aku juga membacai blog kawan-kawanku. Tapi untuk menulis, masih belum
tercetus keinginan hati. Secara rasional, sudah tidak mungkin lagi, pikirku.
Aktivitas kerjaku yang seabrek-abrek itu tidak memungkinkan; menjalani hidup
seperti sekarang saja aku sudah sering melanggar deadline, apalagi ditambah
nulis blog, pikirku.
Sesungguhnya menulis itu adalah hobiku sejak kecil, apalagi
menulis karangan, merangkai-rangkai cerita, syair, dan kisah hidup sendiri. Dulu
ketika masih jadi aktivis pers mahasiswa, menulis adalah idealismeku, kini
menulis adalah kerjaku: menulis essay, kritik sastra, dokumen sejarah, hingga
menerjemahkan buku. Ampun, sehari 24 jam serasa masih kurang..!
Kini dengan keluhan-keluhan seperti itu, kenapa lalu aku
masih ngotot untuk menulis blog? Sedikit ilmiah, Freud akan mengatakan ada super
ego atau something irrational yang menyetir jari-jemariku, sedangkan
Baudrillard dan kaum posmodern akan mengatakan, ada desire di balik
semua ini. Aku setuju dengan mereka! Secara rasional aku sudah tidak mampu lagi
menulis blog, tapi ada motivasi-motivasi tersembunyi yang memberiku tenaga
ekstra ini untuk menulis terus (buat para juniorku, ini bisa jadi bahan skripsi
lho!!, hehehe).
Lebih lanjut Freud mengatakan bahwa hidup manusia itu lebih
banyak dipengaruhi oleh sesuatu yang irrasional daripada yang rasional. Menulisku
ini adalah aktivitas irrasional bagiku, meski yang ku tulis adalah sesuatu yang
rasional, hehehe, (jangan dibikin pusing lah yaw). Coba dipikir lagi, jika kita
marah karena ada seseorang yang menyebalkan, atau menangis karena nonton film
sedih padahal film itu cuma fiksi saja, atau tertawa melihat hal lucu padahal
kawan kita yang lain bilang tidak lucu, atau mencintai seseorang dan rela
berkorban untuknya, atau cinta ibu kepada kita.. apakah itu sesuatu yang
rasional??
Kembali ke tulisan. Dari bacaan-bacaanku, ada banyak dijelaskan
tentang kenapa para penulis besar itu menulis. Secara sadar para penulis yang
beraliran realisme sosialis, ambil contoh Gabriel Garcia Marquez (pemenang Nobel
Sastra 1982) mengatakan dari Brazil bahwa ia menulis dengan tujuan untuk
mencerahkan rakyat, membawa rakyat untuk melawan penindasan, melawan
kapitalisme dan kolonialisme (mirip jargon Lekra di tahun 1965an). Terry
Eagleton, kritikus sastra neo Marxis paling terkemuka, mengatakan bahwa menulis
adalah untuk menggugah kesadaran manusia untuk bangkit melawan kapitalisme
global, Atau RM Tirto Adhi Soerjo, bapak Pers Indonesia kita, yang di awal abad
20 ia telah berani mengatakan bahwa menulis dan memublikasikannya di koran adalah
cara untuk memajukan kaum pribumi, memukul para pejabat yang menyeleweng, mengawal
pikiran umum, dan melawan penjajah Belanda.
Tapi ada juga yang lucu pendapatnya, menurut Borges, ia
menulis untuk kawan-kawannya, dan untuk menghabiskan waktu. Saya kira banyak
kawan-kawanku para penulis amatir, seperti aku sendiri, yang beraliran sama,
individualistik dan sentimentil: menulis adalah untuk kesenangan hati, untuk
mengungkapkan perasaan, dan, untuk curhat! Tidak ada yang salah dengan itu.
Anne Frank, gadis Yahudi Belanda yang mati di kamp konsentrasi Nazi di
Bergen-Belsen, Jerman, 1944, namanya menjadi harum gara-gara ia menulis buku
catatan harian ketika ia dan keluarganya bersembunyi untuk menghindari relokasi
Hitler dan sekutunya. Buku diary itu kini telah menyebar ke seluruh dunia,
diterjemahkan ke dalam lebih dari 60
bahasa, dan terjual lebih dari 30 juta kopi, dan, setelah Injil, menurut book
review dari Amerika, inilah buku non fiksi yang paling banyak dibaca masyarakat
dunia!
Bagiku, menulis sebagai kerja adalah aktivitas rasional,
sedangkan menulis sebagai penghibur hati adalah aktivitas irrasional. Bukanlah
kita tidak perlu mempertentangkan Rene Descartes, bapak filsafat Rasionalisme dari
Perancis, dengan Sigmund Freud, bapak ilmu Psikoanalis dari Jerman? Cukup kita menyimak
Derrida: bahwa ilmu pengetahuan barat tidak pernah bisa lengkap, jauh dari
sempurna, dan bukanlah teori dari segala hal.
Memang aku menulis blog ini demi kesenanganku semata, (dan
herannya, aku telah menghabiskan waktu sekurangnya 5 jam tanpa letih cuma untuk
tulisan ini saja). Tapi ada juga niat yang baik (yang sok baik menurutku, barangkali), yaitu membuat dokumen tertulis
tentang tempat-tempat yang aku singgahi, dan manusia-manusia di dalamnya tentu
saja, sebab bukankah sejarah itu menjadi berarti tatkala ada manusia-manusia yang
berkelana mengisi ruang-waktu sejarah itu.
Mari kita bicara sejarah sebentar. Ada yang berkata sejarah
adalah milik para jendral pemenang perang, mungkin betul juga, sebab pada faktanya,
ada seorang kawan lama di Jember, namanya Agung (Sekjen PPMI 2005-2006),
sepulang ia dari kongres PPMI di Semarang, (Maret, 2007) ia mampir ke Solo,
melawat ke Museum Sejarah Indonesia. Sore itu ia mengirim SMS kepadaku, menjelaskan
bahwa dari seluruh arsib di museum itu, cuma ada satu koran saja yang
melaporkan tentang tragedi 30 September 1965, dan itu pun cenderung memihak
penguasa militer waktu itu.
Menurut Gunter Grass (pemenang Nobel Sastra 1999), tugas
penulis kini adalah menulis sejarah pinggiran, sejarah dari kaum yang kalah
perang, dari orang-orang kecil yang dilumpuhkan dan ditindas oleh Kapitalisme
global yang, menurutnya, cuma mengakui hanya ada satu sejarah tunggal saja di
dunia, bahwa Kapitalisme adalah akhir dari sejarah umat manusia. Sejarah tidak
akan pernah berakhir! katanya. Namun ada juga pendapat lain, menurut Arnold
Toynbee, ada tugas penting yang diemban oleh para sejarawan dunia, yaitu
menulis sejarah dengan tujuan mewujudkan perdamaian dari ras-ras manusia yang
berbeda-beda di bumi. Mulia sekali kedengarannya.
Jadi kini tujuanku menulis di blog ini sudah agak jelas. Aku
sesungguhnya ingin seperti para tokoh penulis yang telah ditampilkan di atas, dari
mulai melakukan perlawanan dan menyebarkan perdamaian lewat tulisan, hingga
menulis buku catatan harian yang bisa
diwariskan ke seluruh dunia. Tapi kini harus aku fahami betul, waktu adalah kaca
pembatasnya. Maka aku pun harus merumuskan ulang tulisanku selanjutnya untuk
blog ini. Cukup seperti Gunter Grass dan Anne Frank saja, pikirku akhirnya. Aku
akan menulis kisah-kisah sejarah orang kecil, kisah kawan-kawanku sendiri, dan
tempat-tempat yang ku singgahi, yang remeh-temeh, hanya dengan sedikit atau
tanpa riset sama sekali, dianggap tidak bernilai bagi kemajuan peradaban,
mungkin, but it’s not a matter. Setidaknya aku lebih jujur dari mereka yang
hanya menulis sejarah hidup dari jendral pemenang perang saja.
Sebagai penutup dari tulisan pembuka ini adalah sebuah
petanyaan: untuk siapa aku persembahkan tulisan di blog ini? Meniru Borges, aku
menulis hanya untuk kawan-kawanku, dan untuk kesenanganku sendiri.
PS:
Kami menerima komentar, sanggahan, dan kritik serta
sumbangan tulisan sebagai bahan penyempurna. Tulisan ini akan di update
sewaktu-waktu.
Terima kasih
- Rodhie As’ad -